Sabtu, 11 Juni 2011

METODE PROYEK : Pengertian dan Penerapan Metode Proyek

Pendidikan merupakan suatu usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Suatu hal yang perlu mendapat perhatian bahwa prestasi belajar siswa bukan hanya ditentukan oleh program di sekolah, tetapi ditentukan pula oleh kegiatan belajar di luar sekolah atau di rumah.
Pembelajaran, Menurut Usman ( 2000 : 4 ) “ … proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.” Proses pembelajaran merupakan interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam pembelajaran yang satu sama lain saling berhubungan dalam sebuah rangkaian untuk mencapai tujuan. Menurut Sudjana ( 1989 : 30 ) yang termasuk dalam komponen pembelajaran adalah “tujuan, bahan, metode dan alat serta penilaian “Metode mengajar yang digunakan guru hampir tidak ada yang sisa-sia, karena metode tersebut mendatangkan hasil dalam waktu dekat atau dalam waktu yang relatif lama.
Hasil yang dirasakan dalam waktu dekat dikatakan sebagai dampak langsung (Instructional effect) sedangkan hasil yang dirasakan dalam waktu yang relatif lama disebut dampak pengiring (nurturant effect) biasanya bekenaan dengan sikap dan nilai. (Syaiful Bahri Djamarah, 2000,194).
Dalam proses pembelajaran yang diterapkan saat ini kebanyakan masih belum menunjukkan hasil yang memuaskan, upaya guru ke arah peningkatan kualitas proses belajar mengajar belum optimal, metode, pendekatan, dan evaluasi yang dikuasai guru belum beranjak dari pola tradisional, dan hal ini berdampak negatif terhadap daya serap siswa yang ternyata masih tetap lemah. Disamping itu, masih ada kenyataan yang menunjukkan bahwa pendidikan kita dewasa ini lebih memaksakan kepada peserta didik, dan lebih melaksanakan informasi tekstual dari pada mengembangkan kemampuan membudayakan belajar dan membangun individu belajar. Hal ini menunjukkan bahwa guru merupakan pengendali dari aktivitas siswa dalam belajarnya. Cara seperti ini, akan menghambat kreativitas siswa dalam melakukan kegiatan, matematika misalnya, sehingga kegiatan pembelajaran dan evaluasi menjadi kurang efektif, kurang efisien, kurang menantang, dan kurang dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. Untuk itu seorang guru harus menerapkan berbagai macam metode, strategi, maupun model-model pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik. Salah satu metode mengajar yang dapat digunakan adalah metode proyek.

METODE PROYEK
a. Pengertian Metode Proyek
Istilah proyek diambil dari manual arts (pekerjaan tangan), di mana siswa harus menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu yang disebut proyek dimaksud “any wholehearted” ”lifelike” ”activity” apakah itu membuat sandiwara, mengadakan karyawisata atau menikmati hasil-hasil kesenian. Yang pokok dalam metode proyek ialah “the active purpose of the learner”. Siswa itu sendiri harus menerima proyek itu dan melaksanakannya. Kalau siswa sedang membuat jembatan atas perintah guru, itu bukan suatu proyek. Sebaliknya jika siswa membaca buku didorong oleh keinginan mencari atau memahami sesuatu, itu termasuk proyek.
Menurut Ahmadi dan Prasetya (1997: 70) mengemukakan bahwa metode proyek (unit) adalah suatu metode mengajar dimana bahan pelajaran diorganisasikan sedemikian rupa sehingga merupakan suatu keseluruhan atau kesatuan bulat yang bermakna dan mengandung suatu pokok masalah.
Sedangkan menurut Roestiyah (1994: 81) metode proyek berarti rencana, suatu problem atau kesulitan, dan bentuk pengajaran dimana murid mengelola sendiri.
Menurut J. Mursell (Sugimal, 2006: 13) metode proyek mempunyai empat aspek dalam pelaksanaannya:
1. Menentukan tujuan.
2. Merencanakan.
3. Melaksanakan.
4. Menilai.
Keempat aspek itu terdapat dalam kegiatan siswa guna mencapai tujuannya. Siswa dapat memilih proyek sebagai bagian dari persyaratan-persyaratan atau sebagai pekerjaan pengayaan dalam suatu pelajaran.
Penugasan (proyek) merupakan tugas yang menyenangkan sekaligus menantang, karena dalam melaksanakan proyek tersebut siswa perlu menuangkan segala kemampuan yang dimilikinya serta pengalaman belajar yang dapat menunjang pelaksanaan proyek tersebut. Dengan mengerjakan proyek, pengetahuan siswa akan meningkat. Selain itu, kreativitas siswa akan berkembang.
Dalam melaksanakan proyek siswa secara berkelompok dan bekerjasama dengan rekan sekelompoknya. Dengan demikian, hubungan sosial dan rasa solidaritas dengan sesama siswa dapat terlatih.
Pelaksanaan pembelajaran dengan metode proyek akan menghasilkan suatu hasil proyek yang dapat diamati secara langsung (nyata). Siswa akan melaporkan penemuannya dengan tertulis, lisan atau dalam beberapa bentuk penyajian lain di depan kelas, kelompok belajar atau guru. Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk sangat kreatif, selain itu, dengan mempresentasikan laporan hasil proyek, dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi.
Metode proyek membawa perubahan esensial dalam kegiatan siswa. Belajar dengan baik tidak tercapai dengan cara penyajian yang bagaimanapun baiknya. Belajar dengan hasil baik hanya tercapai dengan membangkitkan kemauan dan kegiatan siswa untuk belajar.
Menurut Ahmadi (1997) langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan metode proyek sebagai berikut:
1. Penyelidikan dan observasi (exploration)
Guru mengajukan pertanyaan lisan, memberi keterangan singkat serta mengetes para pelajar mengenai pengetahuan mereka tentang mata pelajaran yang akan dipelajari lalu memberi tugas kepada peserta didik untuk meneliti materi yang akan dipelajari.
2. Penyajian bahan baru (presentation)
Dengan metode ceramah, guru memberikan garis besar tentang bahan pelajaran.
3. Asimilasi/pengumpulan keterangan atau data
Para pelajar mencari informasi, keterangan atau fakta-fakta untuk mengisi pokok-pokok yang penting. Dalam langkah ini pelajar mencari data dari sumber-sumber unit (resource unit = sumber yang berisi berita, fakta, informasi dan sebagainya tentang unit yang sedang dipelajari).
4. Mengorganisasikan data (organization)
Dalam langkah ini, pelajar dibawah pimpinan guru aktif mengorganisasikan data, fakta dan informasi, missal menggolongkan data, mengolah data untuk mengambil kesimpulan. Daya berpikir dan daya menganalisis memainkan peran penting dalam langkah ini.
5. Mengungkapkan kembali (recitation)
Para pelajar mempertanggungjawabkan atau menyajikan hasil yang diperolehnya. Laporan pertanggungjawaban ini dapat dilakukan dengan lisan maupun tertulis atau keduanya.
Metode ini memantapkan pengetahuan yang diperoleh anak didik. Menyalurkan minat dan melatih anak didik menelaah suatu materi pelajaran dengan wawasan yang lebih luas
b. Konteks dan Tujuan Metode Proyek
Di kelas, guru mungkin menekankan penilaian proyek pada prosesnya dan menggunakannya sebagai sarana untuk mengembangkan dan memonitor ketrampilan siswa dalam merencanakan, menyelidiki, dan menganalisis proyek. Dalam konteks ini, siswa dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan pada suatu topik, memformulasikan pertanyaan, dan menyelidiki topik tersebut melalui bacaan, dan wawancara. Kegiatan mereka kemudian dapat digunakan untuk menilai kemampuannya dalam hal bekerja independen atau kelompok. Guru juga dapat menggunakan produk suatu proyek untuk menilai kemampuan siswa dalam mengkomunikasikan teman-teman dengan bentuk yang tepat dalam hal mempresentasikan hasil melalui display visual dan laporan tertulis. Proyek yang ditetapkan guru dan dinilai pada proses dan produknya berada di tengah dapat dicermati pada tabel berikut :



c. Kelebihan dan Kekurangan Metode Proyek
• Kelebihan
o Dapat merombak pola pikir anak didik dari yang sempit menjadi lebih luas dan menyeluruh dalam memandang dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan.
o Melalui metode ini, anak didik dibina dengan membiasakan menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dengan terpadu, yang diharapkan praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.
o Pengetahuan yang diperoleh fungsional.
o Anak-anak belajar bersungguh-sungguh dalam bekerja bersama.
o Anak-anak bertanggung jawab penuh pada pekerjaannya
• Kekurangan
o Kurikulum yang berlaku di negara kita saat ini, baik secara vertikal maupun horizontal, belum menunjang pelaksanaan metode ini.
o Organisasi bahan pelajaran, perencanaan, dan pelaksanaan metode ini sukar dan memerlukan keahlian khusus dari guru, sedangkan para guru belum siap untuk ini.
o Harus dapat memilih topik unit yang tepat sesuai kebutuhan anak didik, cukup fasilitas, dan memiliki sumber-sumber belajar yang diperlukan.
o Bahan pelajaran sering menjadi luas sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang dibahas.
d. Perencanaan Metode Proyek
Dalam perencanaan metode proyek terdapat tiga hal yang perlu dipertimbangkan :
• Kemampuan Pengelolaan, jika sisa diberikan kebebasan yang luas, mereka akan mendapatkan kesulitan dalam memilih topik yang tepat. Mereka mungkin memilih topik yang terlalu luas sehingga sedikit informasi yang dapat ditemukan. Mereka mungkin juga kurang tepat untuk memperkirakan waktu pengumpulan data dan penulisan laporan.
• Relevansi, guru harus mempertimbangkan pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman pada pembelajaran agar proyek dijadikan sebagai sumber bukti.
• Keaslian, guru perlu mempertimbangkan seberapa besar petunjuk atau dukungan yang telah diberikan pada siswa.
e. Judging Proyek
• Metode judgement
Proyek dapat dinilai secara holistik maupun analitik pada proses maupun produknya. Secara holistik, nilai tunggal mencerminkan kesan umum, sedangkan secara analitik, nilai diberikan pada beberapa aspek.
• Keterbandingan judgement
Di kelas, keterbandingan nilai proyek tidaklah begitu penting. Akan tetapi guru harus tetap yakin bahwa nilainya dapat dimengerti siswa. Pada situasi yang memiliki resiko tinggi, nilai diberikan oleh penilai yang berbeda. Kekonsistenan nilai perlu diperhatikan. Bila siswa dapat memilih topik yang berbeda, maka standar penilaian pada topik yang berbeda tersebut harus dispesifikasikan.
f. Estimasi dan Pelaporan Prestasi
Penilaian proyek merupakan salah satu bukti untuk ditempatkan pada peta kemajuan belajar siswa. Nilainya dapat dilakukan secara subjektif maupun objektif.
Secara subjektif, bila hal ini dilakukan, bukti nilai yang tersedia dapat menunjukkan hubungan yang lemah pada peta kemajuan belajar.
Secara objektif, lokasi siswa pada peta kemajuan belajar dapat ditempatkan relatif dengan tepat.


CONTOH PENERAPAN METODE PROYEK
Berdasarkan langkah-langkah penerapan metode proyek yang telah dipaparkan diatas, penulis membuat suatu program pembelajaran yaitu tentang Pemanfaatan Biogas, cara pengelolaannya dan dampaknya bagi kehidupan sehari-hari. Langkah-langkah penerapan program pembelajaran tersebut dapat dijelaskan dibawah ini, yaitu :
a. Penyelidikan dan observasi.
Awalnya guru memancing minat peserta didik dengan bertanya. Pertanyaan yang diajukan harus berkaitan dengan materi pembelajaraan yang akan disampaikan. Sebagai contoh, guru bertanya : “Apakah ada yang mengetahui apa itu biogas?” Setelah itu, peserta didik diberi tugas untuk meneliti hal tersebut dengan cara terjun langsung ke masyarakat.
b. Penyajian bahan baru.
Guru atau narasumber menjelaskan tentang pemanfaatan biogas, cara pengelolaannya dan dampaknya secara garis besarnya saja.
c. Pengumpulan keterangan.
Peserta didik berusaha mencari keterangan dan mengumpulkan bahan yang berkaitan dengan pemanfaatan biogas. Seperti mencari tentang pengertian biogas, manfaat biogas, dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
d. Mengorganisasikan data.
Setelah peserta didik mendapatkan informasi dari berbagai sumber, baik dari fakta-fakta maupun dari media, peserta didik menggolongkan data-data tersebut untuk menarik sebuah kesimpulan dan membuat sebuah laporan kegiatan.
e. Mengungkapkan data.
Pada tahap terakhir ini, peserta didik berdiskusi yang dimoderatori oleh guru tentang makalah pemanfaatan biogas yang telah disusun berdasarkan hasil observasi tersebut.
Guru dapat melakukan penilaian terhadap :
a. Keaktifan saat berbicara dengan narasumber.
b. Makalah yang dibuat.
c. Keaktifan dalam diskusi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar